Keris Dalam Budaya Jawa

Kamis, 19 Mei 2011

Keris Dalam Budaya Jawa

Bahasa Perkerisan
Dalam percaturan perkerisan yang sangat dinamis, banyak hal-hal lucu yang serring kita jumpai. hal-hal tersebut banyak dijumpai dikalangan para pelestari tosan aji, baik dari kalangan kolektor maupun pebisnis keris. sering kali terlontar kalimat ataupun kata-kata yang menggelikan.di sini saya akan berbagi sedikit pengalaman dengan pemahaman dangkal saya.



Dalam perdagangan keris sangat banyak yang mempermasalahkan Pesi. Pesi adalah bagian keris untuk menempelnya gagang keris atu biasa disebut dengan deder.Pesi ini biasanya memiliki panjang normal kurang lebih 7 cm,atau empat Nyari (jari). pesi yang telah pugut (putus), atau berkurang panjangnya ada yang percaya bisa mengurangi daya isoteri keris.
Ada juga yang tidak mempercayai itu, dan untuk tetap melestarikanya maka pesi tersebut lalu disrumbung dengan menggunakan besi yang dilinting seperti rokok kemudian dishok ke pesi yang telah kurang panjangnya.
ada juga yang mempercayai pesi yang tertinggal di dalam deder, memiliki daya tertentu. pesi tersebut lalu disebut dengan pesi kurung. pesi kurung dipercaya mampu menghindarkan pemegangnya dari sante, tenung, bahkan senjata tajam. lebih dahsyatnya lagi pesi kurung yang terjadi secara alami, bukan karena rekayasa, ataupun human eror dapat membantu pemegangnya untuk kaya. Hal tersebut menjadi renungan kita sebagai mahluk tuhan yang dikaruniai banyak kelebihan.
Masih banyak bahasa lain dalam perkerisan yang sering membuat kita menjadi geli bahkan termehek-mehek. Sebagai misal pada saat transaksi, Sering dijumpai istilah atau akronim-akronim aneh, tapi menjadi khas didunia perkerisan. Ada Istilah GAMA untuk menyebut harga Tiga Puluh Lima,atau UNIVERSITAS yang dimaksud Universitas Gajah Mada. Ada TOPI KERATON alias iKET alias SEKET (lila puluh).
Ada lagi istilah Kewan (hewan) Rambut alias TUMA alias pitu lima (75). kecebur kalen(sngai) untuk menyebut nominal seratus (100), karena saat tercebur berbunyi kecepeks alias cepek alias 100 dalam bahasa cina. Bagi yang ingin menambah untuk memperkaya khasanah perkerisan silakan.


Perkembangan Keris
Keris merupakan salah satu nama dari sekian banyak nama dan definisi dari jenis senjata pertahanan diri, yang terciptakan melalui suatu proses untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Manusia yang memiliki insting membunuh meciptakan beragam jenis senjata. Senjata – senjata tersebut mempunyai arti alat bantu untuk tercapainya satu kebutuhan dasar manusia, yaitu terhindarnya rasa lapar di perut.
Manusia yang hidup dan belajar dari alam, mengolah dan mengembangkan pemikirannya. Mereka meciptakan alat – alat untuk berburu dengan bahan – bahan yang telah tersediakan oleh alam.
Berawal dari batu, kayu, hingga mengenal peradaban perunggu, sampai pada material besi dan baja. Alat – alat yang awalnya hanya untuk berburu, berkembang menjadi alat untuk mendapatkan kemenangan dari individu lainya.
Kemenangan dan penguasan terhadap individu lainya juga merupakan manifestasi dari perwujudan kebutuhan dasar manusia, yaitu makan dan kebutuhan biologis (menurut pakar psikoanalisa, Sigmund Freud). Dimungkinkan pada era itu manusia berfikir bahwa dengan menguasai individu lain, ia akan lebih mudah untuk mecukupi kebutuhan pemenuhan rasa lapar dan penyaluran libido birahinya.
Maka dengan itu manusia terus mengolah peradabannya. Alat – alat yang mereka gunakan, atau yang kemudian berkembang nama dan fungsinya menjadi senjata terus mereka upayakan untuk menjadi alat beladiri yang sempurna.
Di Pulau Jawa sendiri jenis sejata – senjata tersebut berkembang, ada yang berupa berang, bendho, arit, kudi, cenggereng, golok, pangot, wedhung, pedang, tombak, hingga keris. Untuk pedang sendiri dapat digolongkan menjadi banyak nama sesuai dengan bentuknya, ada sabet, suduk maru lameng dan lain – lain.
Senjata di Pulau Jawa memiliki keunikan pada teknologi pembuatannya. Senjata – senjata tersebut dibuat dengan teknik penempaan, bukan dicor. Teknik penempaan disertai pelipatan berguna untuk mencari kemurniaan besi, yang mana pada waktu itu bahan – bahan besi masih komposit dengan materi – materi alam lainnya.



Perkembangannya teknologi tempa tersebut mampu menciptakan satu teknik tempa Tosan Aji ( Tosan = besi, Aji = berharga) yang lebih sempurna, seirin perjalanan waktu. Salah satu Tosan Aji yang akan kita bicarakan adalah yang berupa keris. Karena keris saya rasa dari segi pembuatanya memili keunikan yang mampu mewakili tosan aji lainya.
Keris terdiri dari tiga unsur bahan pembuatnya. Baja, besi dan pamor. Pada perkembangan berikutnya keris bukan hanya sekedar senjata, tapi menjadi piandel (suatu alat untuk meningkatkan kepercayaan diri) juga menjadi simbol untuk mewakili status sosial pemakainya. Bahkan keris layak untuk menjadi pengganti si pemilik dalam berbagai situasi. Semisal pernikahan ataupun duta negara.

Jenis Tangguh Keris
Apabila ditinjau dari segi pembuatan dan masa pembuatannya, keris dapat digolongkan menjadi beberapa jenis. Pengelompokan keris tersebut dikenal dengan istilah Sepuh (jw: tua), yang maksudnya tingkat ketuaan umur keris. setingkat makna dengan jaman pembuatan. Jaman tersebut memakai kode atau nama kerajaan asal keris dibuat. Adapun tangguh keris sebenarnya adalah model atau ciri khas keris berdasar daerah asal keris. Sebagai contoh keris buatan Mataram Sultan Agungmemakai model keris Pajajaran, akan tetapi tetap tidak meninggalkan ciri khas mataram. akan tetapi tangguh sering diartikan dengan era pembuatan. Adapun tangguh keris yang dikenal hingga saat ini adalah:
Tanguh Purwa Carita: Singasari, Jenggala dan Kediri
Tangguh Segaluh
Tangguh Pajajaran
Tangguh Cirebon
Tangguh Bagelen,Pasir Luhur
Tangguh Majapahit
Tangguh Sedayu
Tangguh Pengging
Tangguh Demak
Tangguh Pajang
Tangguh Mataram: Senapati, Sultan Agung, Amangkurat
Tangguh Kartasura
Tangguh Surakarta
Tangguh Ngayogyokarto: Ngentho – entho/Jenggalan.
Tangguh Kamardhikan


Dengan melihat ciri-ciri fisik pada keris maka akan dikenali tangguh jenis apakah keris tersebut.


Pamor Keris
Pamor Udan Mas
Pamor hujan mas adalah pamor yang sangat populer di masyarakat umum. pamor ini banyak dianggap memiliki daya atau kekuatan yang mampu membuat pemegang keris dengan pamor ini dimudahkan rizkinya. Sehingga keris ini banyak diburu dan dimiliki oleh para pebisnis di berbagai sektor perekonomian.
Keris berpamor udan mas ini pada dasarnya merupakan pamor rekan (sengaja dibuat), sedangkan tehnik yg digunakan untuk peletakan pamornya adalah Mlumah(tehnik satunya miring) Beras wutah adalah pamor yang mendasarinya.pembuatan pamor udan mas ini dengan cara pengedripan,ada yg didrip dalam kondisi besi panas tapi ada pula yang dalam kondisi besi dingin. akan tetapi banyak yang lebih mantap denganmemakai metode yang didrip dalam kondisi besi panas. Ada kasus lain bahwa wos wutah yang penuh kadang muncul banyak pamor bulat-bulat seperti pamor tetesing warih (air menetes), lalu di sebut dengan pamor udan mas tiban.
pamor ini sangat memiliki nilai ajaran yang luhur, hal ini tergambar dari bulatan-bulatan pamornya yang berlapis bagaikan obat nyamuk. di mana simbul tersebut bisa di baca atau dimaknai bahwa individu harus memiliki kepekaan terhadap sekitarnya. di sini ada ajaran bahwa manusia harus bisa berguna bagi mahluk-mahluk Tuhan lainnya. ada ajaran berbuat sedekah di dalam pamor udan mas ini, ini dapat dilihat dari namanya. sedekah itu bagaikan hujan emas bagi penerimanya maupun pemberinya. hujan itu mendinginkan seperti halnya shodaqoh yang bisa mendinginkan dan melembutkan hati. maka sangat tidak mengherankan jika pamor ini sangat bertuah kerejekian, asal sang pemegang keris mampu berbuat seperti uraian pemikiran dari kebodohan saya di atas.




Tapi juga pernah saya dengar bahwa pamor merupakan bentuk-bentuk rajah yang bisa mendatangkan aura tertentu. munkin rajah dengan bentuk bulatan2 tersebut merupakan pemicu munculnya aura kerejekian. sehingga pamor udan mas baru pun bisa memancing keluarnya aura tersebut,tentu saja harus didasari dengan kemantapan hati.ada contoh seorang pengusaha toko mencoba mencari piandel untuk penglarisan tokonya,dan singkat cerita ia mendapatkan keris udan mas baru.singkat cerita dia sukses mampu membuat cabang,dan keris tersebut terus disimpanya.bahkan katanya ada yang mau memaharinya dengan nilai yang telah untung banyak,keris tersebut tidak dilepas.


Pamor Teja Kinurung




Pamor Tejo Kinurung sering juga disebut juga dengan Pamor Adeg Wengkon. Pamor ini memiliki dua tehnik penempatan, yaitu Pamor miring dan mlumah. Pamor mlumah untuk wengkon dan pamor miring untuk adegnya. Akan tetapi ada juga pamor ini memakai teknik pamor miring semua.
Pamor Teja Kinurung telihat sangat minimalis, akan tetapi memiliki kesulitan penggarapan yang sangat tinggi. Kesederhanaan dari pamor Teja Kinurung memiki pancaran aura yang sangat misterius. Pamor ini banyak mengandung makna-makna yang masih sangat perlu dieksplor, dan pamor ini cukup banyak memiliki penggemar.
Pamor adeg memiliki makna akan harapan Sang Empu, bahwa Si Perawat keris akan diharapkan memiki keteguhan jiwa, mampu “Berdiri Tegak”. Si perawat keris diharapkan juga untuk memiliki jalan hidup yang lebih lurus, untuk kualitas kehidupan transendentalnya.
Secara psikologis orang yang menyukai garis lurus sering diartikan sebagai kemampuan individu untuk berfikir secara logis, juga dapat diartikan memiliki kematangan jiwa atau emosional, yang juga ditafsirkan bahwa individu tersebut memiliki kemampuan relationship yang baik.
Untuk pamor wengkon sendiri memiliki makna sebagai perlindungan, dari mara bahaya, secara kast mata maupun ghaib. Ada juga yang mengartikan sebagai harapan Sang Empu agar Si perawat keris akan mampu untuk hidup lebih hemat, berhati-hati untuk membelanjakan hartanya.
Dalam perkembanganya Keris pusaka berpamor teja kinurung bayak disukai oleh pejabat atau pegawai pada sektor-sektor formal, sabagai misal pegawai negeri. Akan tetapi menurut saya pamor adeg wengkon juga cocok dimiliki siapapun, tidak memiliki batasan sosial.
Hal ini dikarenakan pamor ini selain memiliki kekutan tolak, juga memiliki makna manfaat yang lebih luas lagi. Bukannya doa Sang Empu tidak cuma terbatas akan hal-hal tersebut? Masih banyak misteri yang perlu untuk diungkap lagi.


Pamor Keleng

Keris Pamor keleng biasa juga disebut dengan keris pangawak waja . Dalam keris keleng ini tidak nampak pamor putih seperti halnya keris-keris lain. keris ini jika diwarangi hanya terlihat hitam kehijauan, kebiruan atau keabu-abuan. Kadang dalam masih terlihat sedikit warna pamor sanak, akan tetapi banyak yang mengatakan warna tersebut muncul akibat dari lipatan besi. terlepas dari hal-hal tersebut, justru keris keleng ini banyak memiliki keistimewaan. Penempaan keris ini biasanya sangat matang, sehingga memiliki pesona tersendiri bagi penikmat tosan aji.





Keris keleng lebih mengutamakan kematangan tempa juga kesempurnaan garap. Garap di sini yang dimaksud adalah meliputi keindahan bentuk bilah, termasuk di dalamnya ricikan. Keris Keleng juga bisa menjadi bahasa untuk memahami tingkat kematangan Si Empu, secara lahir maupun batin. Secara lahir bisa dilihat kesanggupan Si empu dalam mengolah besi untuk menjadi matang dan presisi. Dalam penggarapan keris tersebut juga dibutuhkan kecermatan dan kedalaman batin.
Kedalaman batin Empu diterjemahkan dalam pamor yang hitam polos tidak bergambar. Empu sudah menep (mengendap) dari keinginan nafsu duniawi. makna yang disampaikan harus diterjemahkan dengan kedalaman rasa yang bersahaja. Efek yang ditimbulkan dari sugesti terhadap keris keleng tersebut adalah, bahwa keris tersebut mampu menjadi tolak bala. Ada juga yang beranggapan bahwa keris keleng tersebut memiliki kekuatan secara isoteri lebih multifungsi, dibanding dengan keris yang berpamor. Terlepas dari itu semua keris tersebut adalah hasil karya, yang sangat sulit untuk dikesampingkan begitu saja.


Muatan Keris

Keris Apa yang anda Harapkan Darinya

Apa yang sebenarnya diharapkan dari sebilah bahkan berbilah-bilah tosan aji? Entah itu keris,tombak,lameng wedung,patrem dan lain-lainya.Ada semacam piweling atau perkataan bijak para orang-orang tua terdahulu (leluhur),bahwa keris atau tosan aji lainya itu hidup dengan makna mampu menghidupi.dengan cara bagai mana?bagi sang empu dan panjak bahkan tukang ubub(memompa api)bisa menjadi sumber penghidupan, dengan menarik ongkos jasa pembuatan.bagi para pengrajin warangka,pendhok,mendhak,deder/ukiran, juga bisa menjadi sumber pendapatan.






Dari sekelumit uraian di atas maka bisa kita sedikit simpulkan bahwa keris tidak bisa menjadikan kita kaya atau bahkan untuk hal yang ringan saja, yaitu menyediakan kita minum,pasti secara langsung tidak bisa.kecuali kita todongkan keris untuk menyuruh orang mengambilkan minum atau untuk menyerahkan sedikit uang.
Di jaman ini keris juga mampu menjadi sumber pendapatan.contoh untuk tukang marangi,penjual keris dari kalangan isoteri(mis:dukun) maupun eksoteri, dan juga yang disebutkan pada paragraf sebelumnya.bijaksana sekali seandainya kita tidak berharap lebih pada keampuhan keris.Karena keris akan menjadi ampuh itu tergantung pada siapa keris berada, di tangan kukuh prasetyo tentu akan lain kesaktianya dibanding saat keris dipegang oleh para raja.bahkan disaat pemilik pusaka kepepetpun, keris tidak mampu berbuat banyak (mengeluarkan kedahsyatan magisnya).sekali lagi yang paling berperan da sakti adalah yang menciptakan si-pembuat keris.
Menurut saya keris merupakan kitab atau ajaran para leluhur yang bernilai ajaran hidup yang mulia, yang perlu dipelajari, dirasakan dan diamalkan.maka kita baru akan mampu memetik hasilnya.selamat mencoba!



Mantram Untuk Menayuh Keris

Mantra I
Bismilah…Galinggang jati wujudhing dhupa, winur jati kukusing dhupa, niat ingsun gugah daya panguwasane wesi aji. jim setan ana gedong wesi, den jaga para wali, kinunci para Nabi,kinacingan dening Alloh,wesi aji sira tangiyo, ingsun kongkon….iki pangandikaning Alloh. Innama amruhu idha arodha…..kun fayakun.


Mantra II
Keris Dikutugi menyan jam 12 malam,berdiri menghadap utara, MANTRANYA : yehohowa iman sari sukma mulya tinampananpadha sukma, telek erang araning wesi, tir putih putih araning waja, manirasa rasa araning cahya. Sira sapa lan duwe daya panguwasa apa. ingsun ngadeg tejane kuning.
Silakan dicoba dengankeyakinan dan niat yang baik juga kuat, seoga berhasil.


Pamor Keris, Intensi & Persepsi





Persepsi merupakan peristiwa Psikologi, dimana individu mengartikan stimulus yang diterima oleh indera. Intensi sendiri sapat diartikan sebagai niat, yang mana proses pemunculannya didahului oleh peristiwa – peristiwa psikologis. Sedangkan pamor merupakan bahan pembuat keris, yang pada akhirnya menjadi ornamen yang sangat indah pada lapisan keris. pamor sendiri bisa menjadi sign akan manfaat atau kandungan makna sebuah keris, juga bahasa empu dalam mengekspresikan karyanya.
Hipotesa yang bisa diambil, ada hubungan antara persepsi terhadap pamor dengan intensi untuk memiliki keris. saat individu menstimulus keris yang dilihatnya maka akan timbul persepsi. Persepsi tersebut akan berbeda antara individu satu dengan lainnya. Hal ini mengarah pada kodrat manusia yaitu perbedaan individu (Individual Differences).

Garis – garis pamor akan dipersepsikan secara berbeda, antara pamor rekan (miring & mlumah) ataupun dengan pamor yang tiban. Garis – garis yang lurus dan tegas mengungkap kepribadian bahwa individu tersebut memiliki kematangan, ketegasan dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain, terkesan kaku. sedangkan untuk garis bergelombang, seperti pamor Beras Wutah atau ngulit semongko akan mengungkap kepribadian individu yang mudah bergaul, gampang terpengaruh dan kurang matang.
Persepsi yang berbeda terhadap pamor, akan memengaruhi tingkat kesenangan terhadap keris. Ini akan berpengaruh dalam pemilihan koleksi keris. Akan tetapi hal ini tidak akan berlaku jika dalam memilih keris berdasar pada koleksi yang belum dimiliki, atau pertimbangan – pertimbangan teknis non psikologis.


Kaitan Antara Keris dan Psikologis

Empu-empu kita ternyata juga ahli psikoanalisa. Entah ini cuma suatu kebetulan, atau para empu kita dulu dalam berkarya memang telah memikirkan jauh, akan muatan-muatan kejiwaan di dalam karyanya.
Psikoanalisa yang memiliki teori, bahwa kejiwaan manusia terbagi menjadi tiga, yaitu id, ego dan super ego. Id yang berada di alam bawah sadar manusia, memberikan dorongan – dorongan nafsu liar. Nafsu primitif tersebut sangat explosif, selalu minta untuk tersalurkan, yang paling menonjol adalah libido seksual.


Ego sendiri merupakan sisi kejiwaan yang mampu mengerem laju nafsu liar tersebut. ego menjembatani antara id dan super ego. Super ego adalah sisi kejiwaan individu yang mana di dalamnya terkandung unsur-unsur moralitas. Unsur-unsur tersebut seperti halnya sopan santun, agama, aktualisai diri dan semu hal yang mengandung kebaikan secara sosial ataupun transendental.
Bahan keris yang terdiri baja, besi dan pamor dapat dibaca atau diterjemahkan seperti halnya id, ego dan super ego. Baja yang memiliki karakter keras, tajam, mudah patah dan terletak paling dalam pada bilah keris mewakili sifat-sifat yang terkandung dalam id, yang terletak di alam bawah sadar manusia. bahaya dan sangat mencelakakan akan ditimbulkan oleh id maupun baja.
Pada keris besi terletak di lapisan luar baja, besi memiliki kelenturan berfungsi sebagai tempat menempelnya baja dan pamor, dapat di artikan sebagai ego. Pamor yang bersifat lebih tahan dari karat, menancap pada lapisan besi, nampak di permukaan bilah memperindah tampilan sebuah keris. Sehingga pamor dapat di baca sebagai perwujudan super ego manusia.


Aneka Nama Jenis Keris
Dalam budaya perkerisan ada sejumlah istilah yang terdengar asing bagi orang awam.. Pemahaman akan istilah-istilah ini akan sangat berguna dalam proses mendalami pengetahuan mengenai keris. Istilah dalam dunia keris, khususnya di Pulau Jawa, yang sering dipakai: angsar, dapur, pamor, perabot, tangguh, tanjeg, dan lain sebagainya.
Di bawah ini adalah uraian singkat yang disusun secara alfabetik mengenai istilah perkerisan. Istilah ini lazim digunakan di Pulau Jawa dan Madura, tetapi dimengerti dan kadang kala juga digunakan di daerah lainnya, seperti Sulawesi, Sumatra, dan bahkan di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Keris Bima, Nusa Tenggara Barat. Keris ini diduga milik keluarga bangsawan tinggi, sarung dan hulunya berlapis emas.

Angsar
adalah daya kesaktian yang dipercaya oleh sebagian orang terdapat pada sebilah keris. Daya kesaktian atau daya gaib itu tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan oleh orang yang percaya. Angsar dapat berpengaruh baik atau posistif, bisa pula sebaliknya.
Pada dasarnya, semua keris ber-angsar baik. Tetapi kadang-kadang, angsar yang baik itu belum tentu cocok bagi setiap orang. Misalnya, keris yang angsar-nya baik untuk seorang prajurit, hampir pasti tidak cocok bila dimiliki oleh seorang pedagang. Keris yang angsar-nya baik untuk seorang pemimpin yang punya banyak anak buah, tidak sesuai bagi pegawai berpangkat rendah.
Guna mengetahui angsar keris, diperlukan ilmu tanjeg. Sedangkan untuk mengetahui cocok dan tidaknya seseorang dengan angsar sebuah keris, diperlukan ilmu tayuh.


Dapur
Adalah istilah yang digunakan untuk menyebut nama bentuk atau type bilah keris. Dengan menyebut nama dapur keris, orang yang telah paham akan langsung tahu, bentuk keris yang seperti apa yang dimaksud. Misalnya, seseorang mengatakan: "Keris itu ber-dapur Tilam Upih", maka yang mendengar langsung tahu, bahwa keris yang dimaksud adalah keris lurus, bukan keris yang memakai luk. Lain lagi kalau disebut dapur-nya Sabuk Inten, maka itu pasti keris yang ber-luk sebelas.
Dunia perkerisan di masyarakat suku bangsa Jawa mengenal lebih dari 145 macam dapur keris. Namun dari jumlah itu, yang dianggap sebagai dapur keris yang baku atau mengikuti pakem hanya sekitar 120 macam saja. Serat Centini, salah satu sumber tertulis, yang dapat dianggap sebagai pedoman dapur keris yang pakem memuat rincian jumlah dapur keris sbb:

Keris lurus ada 40 macam dapur. Keris luk tiga ada 11 macam. Keris luk lima ada 12 macam. Keris luk tujuh ada 8 macam. Keris luk sembilan ada 13 macam. Keris luk sebelas ada 10 macam. Keris luk tigabelas ada 11 macam. Keris luk limabelas ada 3 macam. Keris luk tujuhbelas ada 2 macam. Keris luk sembilan belas, sampai luk duapuluh sembilan masing-masing ada semacam.
Namun, menurut manuskrip Sejarah Empu, karya Pangeran Wijil, jumlah dapur yang dianggap pakem lebih banyak lagi. Catatan itu menunjukkan dapur keris lurus ada 44 macam, yang luk tiga ada 13 macam, luk sebelas ada 10 macam, luk tigabelas ada11 macam, luk limabelas ada 6 macam, luk tujuhbelas ada 2 macam, luk sembilanbelas sampai luk duapuluh sembilan ada dua macam, dan luk tigapuluh lima ada semacam.
Jumlah dapur yang dikenal sampai dengan dekade tahun 1990-an, lebih banyak lagi.


Luk
Istilah ini digunakan untuk bilah keris yang tidak lurus, tetapi berkelok atau berlekuk. Luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Hitungannya mulai dari luk tiga, sampai luk tigabelas. Itu keris yang normal. Jika luknya lebih dari 13, dianggap sebagai keris yang tidak normal, dan disebut keris kalawijan atau palawijan.
Jumlah luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Selain itu, irama luk keris dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, luk yang kemba atau samar. Kedua, luk yang sedeng atau sedang. Dan ketiga, luk yang rengkol -- yakni yang irama luknya tegas.

Luk keris. Angka-angka menunjukkan bilangan jumlah luknya.


Mas kawin
Dalam dunia perkerisan adalah pembayaran sejumlah uang atau barang lain, sebagai syarat transaksi atau pemindahan hak milik atas sebilah keris, pedang, atau tombak. Dengan kata yang sederhana, mas kawin atau mahar adalah harga.
Istilah mas kawin atau mahar ini timbul karena dalam masyarakat perkerisan terdapat kepercayaan bahwa isi sebilah keris harus cocok atau jodoh dengan pemiliknya. Jika isi keris itu jodoh, si pemilik akan mendapat keberuntungan, sedangkan kalau tidak maka kesialan yang akan diperoleh. Dunia perkerisan juga mengenal istilah melamar, bilamana seseorang berminat hendak membeli sebuah keris.


Mendak
adalah sebutan bagi cincin keris, yang berlaku di Pulau Jawa, Bali, dan Madura. Di daerah lain biasanya digunakan istilah cincin keris. Mendak hampir selalu dibuat dari bahan logam: emas, perak, kuningan, atau tembaga. Banyak di antaranya yang dipermewah dengan intan atau berlian. Pada zaman dulu ada juga mendak yang dibuat dari besi berpamor.
Selain sebagai hiasan kemewahan, mendak juga berfungsi sebagai pembatas antara bagian hulu keris atau ukiran dengan bagian warangka.


Pamor
Pamor dalam dunia perkerisan memiliki 3 (tiga) macam pengertian. Yang pertama menyangkut bahan pembuatannya; misalnya: pamor meteorit, pamor Luwu, pamor nikel, dan pamor sanak. Pengertian yang kedua menyangkut soal bentuk gambaran atau pola bentuknya. Misalnya: pamor Ngulit Semangka, Beras Wutah, Ri Wader, Adeg, dan sebagainya. Ketiga, menyangkut soal teknik pembuatannya, misalnya: pamor mlumah, pamor miring, dan pamor puntiran.

Dua macam pamor yang tergolong jenis pamor miring.

Selain itu, ditinjau dari niat sang empu, pola pamor yang terjadi masih dibagi lagi menjadi dua golongan. Kalau sang empu membuat pamor keris tanpa merekayasa polanya, maka pola pamor yang terjadi disebut pamor tiban. Orang akan menganggap bentuk pola pamor itu terjadi karena anugerah Tuhan. Sebaliknya, jika sang empu lebih dulu membuat rekayasa pla pamornya, disebut pamor rekan [rékan berasal dari kata réka = rekayasa]. Contoh pamor tiban, misalnya: Beras wutah, Ngulit Semangka, Pulo Tirta. Contoh pamor rekan, misalnya: Udan Mas, Ron Genduru, Blarak Sinered, dan Untu Walang.

Keris dapur Sepang. Pamornya Wos Wutah yang tergolong jenis pamor mlumah.

Ada lagi yang disebut pamor titipan atau pamor ceblokan, yakni pamor yang disusulkan pembuatannya, setelah bilah keris selesai 90 persen. Pola pamor itu disusulkan pada akhir proses pembuatan keris. Contohnya, pamor Kul Buntet, Batu Lapak, dll.

Pamor Kul Buntet yang tergolong pamor titipanPamor Batu Lapak


Pendok
berfungsi sebagai pelindung atau pelapis gandar, yaitu bagian warangka keris yang terbuat dari kayu lunak. Namun fungsi pelindung itu kemudian beralih menjadi sarana penampil kemewahan. Pendok yang sederhana biasanya terbuat dari kuningan atau tembaga, tetapi yang mewah terbuat dari perak atau emas bertatah intan berlian.
Bentuk pendok ada beberapa macam, yakni pendok bunton, blewehan, slorok, dan topengan.

Pendok keris: No 1 sampai 4 gaya Surakarta, no. 5 gaya Yogyakarta.



Perabot
Dalam dunia perkerisan, asesoris bilah keris disebut perabot keris. Perlengkapan atau asesoris itu meliputi warangka atau sarung keris, ukiran atau hulu keris, mendak atau cincin keris, selut atau pedongkok, dan pendok atau logam pelapis warangka.


Ricikan
Adalah bagian-bagian atau komponen bilah keris atau tombak. Masing-masing ricikan keris ada namanya. Dalam dunia perkerisan soal ricikan ini penting, karena sangat erat kaitannya dengan soal dapur dan tangguh keris.
Sebilah keris ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng tanda-tandanya adalah berbilah lurus, memakai gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil. Gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil, adalah komponen keris yang disebut ricikan..

Selut
seperti mendak, terbuat dari emas atau perak, bertatahkan permata. Tetapi fungsi selut terbatas hanya sebagai hiasan yang menampilkan kemewahan. Dilihat dari bentuk dan ukurannya, selut terbagi menjadi dua jenis, yaitu selut njeruk pecel yang ukurannya kecil, dan selut njeruk keprok yang lebih besar.
Sebagai catatan; pada tahun 2001, selut nyeruk keprok yang bermata berlian harganya dapat mencapai lebih dari Rp. 20 juta!
Karena dianggap terlalu menampilkan kemewahan, tidak setiap orang mau mengenakan keris dengan hiasan selut.

Selut gaya Surakarta, jenis njeruk keprok


Tangguh
Tangguh arti harfiahnya adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya merupakan perkiraan, me-nangguh keris bisa saja salah atau keliru. Kalau sebilah keris disebut tangguh Blambangan, padahal sebenarnya tangguh Majapahit, orang akan memaklumi kekeliruan tersebut, karena bentuk keris dari kedua tangguh itu memang mirip. Tetapi jika sebuah keris buatan baru di-tangguh keris Jenggala, maka jelas ia bukan seorang ahli tangguh yang baik.
Walaupun sebuah perkiraan, tidak sembarang orang bisa menentukan tangguh keris. Untuk itu ia perlu belajar dari seorang ahli tangguh, dan mengamati secara cermat ribuan bilah keris. Ia juga harus memiliki photographic memory yang kuat.

Bentuk keris tangguh Segaluh

Mas Ngabehi Wirasoekadga, abdidalem Keraton Kasunanan Surakarta, dalam bukunya Panangguhing Duwung (Sadubudi, Solo, 1955) membagi tangguh keris menjadi 20 tangguh. Ia tidak menyebut tentang tangguh Yogyakarta, melainkan tangguh Ngenta-enta, yang terletak di dekat Yogya. Keduapuluh tangguh itu adalah:

1. Pajajaran 2. Tuban 3. Madura 4. Blambangan 5. Majapahit
6. Sedayu 7. Jenu 8. Tiris-dayu 9. Setra-banyu 10. Madiun
11. Demak 12. Kudus 13. Cirebon 14. Pajang 15. Pajang
16. Mataram 17. Ngenta-enta,Yogyakarta 18. Kartasura 19. Surakarta

Keris Buda dan tangguh kabudan, walaupun di kenal masyarakat secara luas, tidak dimasukan dalam buku buku yang memuat soal tangguh. Mungkin, karena dapur keris yang di anggap masuk dalam tangguh Kabudan dan hanya sedikit, hanya dua macam bentuk, yakni jalak buda dan betok buda.

Sementara itu Bambang Harsrinuksmo dalam Ensiklopedi Keris (Gramedia, Jakarta 2004) membagi periodisasi keris menjadi 22 tangguh, yaitu:

1. Tangguh Segaluh 2. Tangguh Pajajaran
3. Tangguh Kahuripan 4. Tangguh Jenggala
5. Tangguh Singasari 6. Tangguh Majapahit
7. Tangguh Madura 8. Tangguh Blambangan
9. Tangguh Sedayu 10. Tangguh Tuban
11. Tangguh Sendang 12. Tangguh Pengging
13. Tangguh Demak 14. Tangguh Panjang
15. Tangguh Madiun 16. Tangguh Koripan
17. Tangguh Mataram Senopaten 18. Mataram Sultan Agung
19. Mataram Amangkuratan 20. Tangguh Cirebon
21. Tangguh Surakarta 22. Tangguh Yogyakarta

Ada lagi sebuah periode keris yang amat mudah di-tangguh, yakni tangguh Buda. Keris Buda mudah dikenali karena bilahnya selalu pendek, lebar, tebal, dan berat. Yang sulit membedakannya adalah antara yang aseli dan yang palsu.


Tanjeg
adalah perkiraan manfaat atau tuah keris, tombak, atau tosan aji lainnya. Sebagian pecinta keris percaya bahwa keris memiliki 'isi' yang disebut angsar. Kegunaan atau manfaat angsar keris ini banyak macamnya. Ada yang menambah rasa percaya diri, ada yang membuat lebih luwes dalam pergaulan, ada yang membuat nasihatnya di dengar orang. Untuk mengetahui segala manfaat angsar itu, diperlukan ilmu tanjeg. Dalam dunia perkerisan, ilmu tanjeg termasuk esoteri keris.

Tayuh
Merupakan perkiraan tentang cocok atau tidaknya, angsar sebilah keris dengan (calon) pemiliknya. Sebelum memutuskan, apakah keris itu akan dibeli (dibayar mas kawinnya), si peminat biasanya terlebih dulu akan me- tayuh atas keris itu. Tujuannya untuk mengetahui, apakah keris itu cocok atau berjodoh dengan dirinya.


Ukiran
Kata ukiran dalam dunia perkerisan adalah gagang atau hilt. Berbeda artinya dari kata 'ukiran' dalam bahasa Indonesia yang padanannya ialah carved atau engraved. Gagang keris di Bali disebut danganan, di Madura disebut landheyan, di Surakarta disebut jejeran, di Yogyakarta disebut deder. Sedangkan daerah lain di Indonesia dan Malaysia, Singapura, serta Brunei Darussalam disebut hulu keris.

Ukiran gaya Surakarta wanda Maraseba

Javakeris memakai istilah ukiran dan hulu keris mengingat semua daerah itu juga mengenal dan memahami arti kata ukiran dalam perkerisan. Bentuk ukiran atau hulu keris di setiap daerah berbeda satu sama lain.

Di bawah ini adalah contoh bentuk hulu keris dari beberapa daerah.


Warangka
Atau sarung keris kebanyakan terbuat dari kayu yang berserat dan bertekstur indah. Namun di beberapa daerah ada juga warangka keris yang dibuat dari gading, tanduk kerbau, dan bahkan dari fosil binatang purba. Warangka keris selalu dibuat indah dan sering kali juga mewah. Itulah sebabnya, warangka juga dapat digunakan untuk memperlihatkan status sosial ekonomi pemiliknya.
Bentuk warangka keris berbeda antara satu daerah dengan lainnya. Bahkan pada satu daerah seringkali terdapat beberapa macam bentuk warangka. Perbedaan bentuk warangka ini membuat orang mudah membedakan, sekaligus mengenali keris-keris yang berasal dari Bali, Palembang, Riau, Madura, Jawa, Bugis, Bima, atau Malaysia.


Berikut adalah jenis-jenis warangka dari berbagai daerah perkerisan:

Warangka Surakarta
Biasanya terbuat dari kayu cendana wangi atau cendana Sumbawa (sandalwood - Santalum Album L.) Pilihan kedua adalah kayu trembalo, setelah itu kayu timaha pelet.
Warangka ladrang terbagi menjadi empat wanda utama, yaitu Ladrang Kasatriyan, Ladrang Kadipaten, Ladrang Capu, dan Ladrang Kacir. Dua wanda yang terakhir sudah jarang dibuat, sehingga kini menjadi langka.
Warangka ladrang adalah jenis warangka yang dikenakan untuk menghadiri suatu upacara, pesta, dan si pemakai tidak sedang melaksanakan suatu tugas. Bila dibandingkan pada pakaian militer, warangka ladrang tergolong Pakaian Dinas Upacara (PDU).

Ladrang Kadipaten

Selain ladrang, di Surakarta juga ada warangka gayaman, yang dikenakan pada saat orang sedang melakukan suatu tugas. Misalnya, sedang menjadi panitia pernikahan, sedang menabuh gamelan, atau sedang mendalang. Prajurit keraton yang sedang bertugas selalu mengenakan keris dengan warangka gayaman.

Warangka gayaman Surakarta juga ada beberapa jenis, di antaranya: Gayaman Gandon, Gayaman Pelokan, Gayaman Ladrang, Gayaman Bancigan, Gayaman Wayang.

Jenis warangka yang ketiga adalah warangka Sandang Walikat. Bentuknya sederhana dan tidak gampang rusak. Warangka jenis inilah yang digunakan manakala seseorang membawa (bukan mengenakan) sebilah keris dalam perjalanan.

Warangka Sandang Walikat

Warangka Yogyakarta
Warangka branggah Yogyakarta terbuat dari kayu kemuning. Bentuk warangka di Yogyakarta mirip dengan Surakarta, hanya ukurannya agak lebih kecil, gayanya lebih singset. Yang bentuknya serupa dengan warangka ladrang, di Yogyakarta disebut branggah. Kayu pembuat warangka branggah di Yogyakarta adalah kayu trembalo dan timaha. Sebenarnya penggunaan warangka branggah di Yogyakarta sama dengan warangka ladrang di Surakarta, tetapi beberapa dekade ini norma itu sudah tidak terlalu ketat di masyarakat.
Jenis bentuk warangka Yogyakarta lainnya adalah gayaman. Dulu ada lebih kurang delapan jenis warangka gayaman, tetapi kini hanya dua jenis wanda warangka yang populer, yakni gayaman ngabehan dan gayaman banaran. Warangka gayaman dikenakan pada saat seseorang tidak sedang mengikuti suatu upacara.
Jenis bentuk warangka yang ketiga adalah sandang walikat, yang boleh dibilang sama bentuknya dengan sandang walikat gaya Surakarta.


Sumber Artikel Dari : noenk CAHAYA
http://noenkcahyana.blogspot.com

Comentários:

Poskan Komentar

 
Antik Unik Bertuah © Copyright | Developed By Jasa Buat Blog Murah |